Sabtu, 13 Februari 2016

MENGENAL ETHNOMATHEMATICS



Proses pembelajaran matematika yang dilakukan saat ini cenderung terlalu teoritis dan kurang kontekstual. Pembelajaranpun kurang bervariasi, sehingga mempengaruhi minat siswa untuk mempelajari matematika lebih lanjut. Pengajaran matematika di sekolah terlalu bersifat formal sehingga matematika yang ditemukan anak dalam kehidupan sehari-hari sangat berbeda dengan apa yang mereka temukan di sekolah. Oleh sebab itu, pembelajaran matematika sangat perlu memberikan muatan/menjembatani antara matematika dalam dunia sehari-hari yang berbasis pada budaya lokal dengan matematika sekolah.
Sebuah pendekatan yang dapat digunakan untuk menjelaskan realitas hubungan antara budaya lingkungan dan matematika saat mengajar adalah ethnomathematics. Ethnomathematics merupakan pengembangan perangkat pembelajaran berbasis budaya. Ethnomathematics termasuk dalam ranah inovasi atau pembaharuan, ranah reformasi, dan ranah research. Orang-orang yang peduli terhadap ethnomathematics adalah orang-orang yang peduli terhadap inovasi pendidikan, orang yang peduli terhadap research pendidikan, orang yang peduli terhadap pengembangan perangkat pembelajaran, sumber belajar, dan lain-lain. Gagasan ethnomathematics akan dapat memperkaya pengetahuan matematika yang telah ada. Oleh sebab itu, jika perkembangan ethnomathematics telah banyak dikaji maka bukan tidak mungkin matematika diajarkan secara bersahaja dengan mengambil budaya setempat. Pada hakekatnya matematika merupakan teknolohi simbolis yang tumbuh pada keterampilan atau aktivitas lingkungan yang bersifat budaya. Dengan demikian matematika seseorang dipengaruhi oleh latar belakangnya, karena yang mereka lakukan berdasarkan apa yang mereka lihat dan rasakan. Budaya akan mempengaruhi perilaku individu dan mempunyai peran yang besar pada perkembangan pemahaman individual, termasuk dalam pembelajaran matematika.
Dalam kegiatan pembelajaran matematika di sekolah, tujuan guru adalah membentuk skema baru. Pembentukan skema baru ini sebaiknya berawal dari skema yang telah ada pada diri siswa, sehingga skema baru akan lebih mudah diterima oleh siswa. Oleh sebab itu, tepat sekali jika dalam mengajarkan matematika formal atau matematika sekolah, guru sebaiknya memulai dengan matematika yang tidak formal yang diterapkan oleh anak di masyarakat. Jika pada diri anak terbentuk skema dengan baik tentang matematika yang dipakai dalam dunia sehari-hari, maka untuk menambah pengetahuan yang telah ada tersebut guru memperkuat skema yang telah ada atau membentuk skema baru berdasarkan skema yang telah ada.
Untuk melakukan pembelajaran berbasis budaya, seorang guru memerlukan unsur pendukung yang paling pokok yaitu perubahan mindset atau perubahan pola pikir. Perubahan pola pikir dapat berupa sederhana maupun rumit. Perubahan yang sederhana dimulai dari konvensional menuju inovatif. Pembelajaran konvensional dapat berupa metode ceramah, tunggal yang artinya sumber-sumber terbatas dan biasanya hanya mengandalkan spidol maupun kapur, kemudian berorientasi pada guru yang artinya siswa lebih banyak pasif dan inisiatif semua pada guru, kemudian paradigma yang digunakan adalah transfer of knowledge atau memberi pengetahuan.
Beberapa kendala dalam merubah tradisi menjadi inovatif adalah:
1.      Diri sendiri, karena diri sendiri merupakan produk dari budaya.
2.      Culture budayanya
3.      Sistem pendidikan, sistem pendidikan kita adalah terpusat dikendalikan oleh negara. Pendidikan sebagai ikon kebijakan pemerintah, sehingga pemerintah selalu ingin menampilkan keberhasilan melalui pendidikan. Padahal pendidikan mempunyai sifat antara lain adalah jangka panjang.
Seorang guru harus mampu menerjemahkan budaya apa saja, dimana saja, kapan saja, oleh siapa saja yang bisa digunakan untuk pengembangan pembelajaran matematika. Oleh karena itu, budaya yang digunakan dalam pembelajaran matematika sebaiknya disesuaikan dengan domisilinya masing-masing, sehingga siswa akan lebih mudah dalam menerjemahkan pembelajaran yang sedang dilaksanakan. Metode-metode yang menunjang ethnomathematics antara lain adalah realistic mathematics dan cooperatif learning. Sedangkan unsur dasar dari ethnomathematics adalah artefak. Artefak dalam ethnomathematics berupa benda-benda konkret. Selain itu juga ada yang bersifat gagasan ataupun ide. Artefak juga dapat berupa sastra. Artefak dapat berbeda-beda, sebagai contoh di Candi Borobudur artefaknya berupa batu-batu dan berupa sejarah. Di keraton artefaknya berupa sastra, tembang-tembang jawa, gendhing-gendhing jawa yang dicipta para raja dapat menjadi nilai sastra yang bisa digali seberapa jauh bermanfaat untuk pembelajaran matematika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar