Proses pembelajaran matematika yang dilakukan
saat ini cenderung terlalu teoritis dan kurang kontekstual. Pembelajaranpun
kurang bervariasi, sehingga mempengaruhi minat siswa untuk mempelajari
matematika lebih lanjut. Pengajaran matematika di sekolah terlalu bersifat
formal sehingga matematika yang ditemukan anak dalam kehidupan sehari-hari
sangat berbeda dengan apa yang mereka temukan di sekolah. Oleh sebab itu,
pembelajaran matematika sangat perlu memberikan muatan/menjembatani antara
matematika dalam dunia sehari-hari yang berbasis pada budaya lokal dengan
matematika sekolah.
Sebuah pendekatan yang dapat digunakan untuk
menjelaskan realitas hubungan antara budaya lingkungan dan matematika saat mengajar
adalah ethnomathematics. Ethnomathematics merupakan pengembangan perangkat
pembelajaran berbasis budaya. Ethnomathematics termasuk dalam ranah inovasi
atau pembaharuan, ranah reformasi, dan ranah research. Orang-orang yang peduli
terhadap ethnomathematics adalah orang-orang yang peduli terhadap inovasi pendidikan,
orang yang peduli terhadap research pendidikan, orang yang peduli terhadap
pengembangan perangkat pembelajaran, sumber belajar, dan lain-lain. Gagasan
ethnomathematics akan dapat memperkaya pengetahuan matematika yang telah ada.
Oleh sebab itu, jika perkembangan ethnomathematics telah banyak dikaji maka
bukan tidak mungkin matematika diajarkan secara bersahaja dengan mengambil
budaya setempat. Pada hakekatnya matematika merupakan teknolohi simbolis yang
tumbuh pada keterampilan atau aktivitas lingkungan yang bersifat budaya. Dengan
demikian matematika seseorang dipengaruhi oleh latar belakangnya, karena yang
mereka lakukan berdasarkan apa yang mereka lihat dan rasakan. Budaya akan
mempengaruhi perilaku individu dan mempunyai peran yang besar pada perkembangan
pemahaman individual, termasuk dalam pembelajaran matematika.
Dalam kegiatan pembelajaran matematika di
sekolah, tujuan guru adalah membentuk skema baru. Pembentukan skema baru ini
sebaiknya berawal dari skema yang telah ada pada diri siswa, sehingga skema
baru akan lebih mudah diterima oleh siswa. Oleh sebab itu, tepat sekali jika
dalam mengajarkan matematika formal atau matematika sekolah, guru sebaiknya
memulai dengan matematika yang tidak formal yang diterapkan oleh anak di
masyarakat. Jika pada diri anak terbentuk skema dengan baik tentang matematika
yang dipakai dalam dunia sehari-hari, maka untuk menambah pengetahuan yang
telah ada tersebut guru memperkuat skema yang telah ada atau membentuk skema
baru berdasarkan skema yang telah ada.
Untuk melakukan pembelajaran berbasis budaya,
seorang guru memerlukan unsur pendukung yang paling pokok yaitu perubahan
mindset atau perubahan pola pikir. Perubahan pola pikir dapat berupa sederhana
maupun rumit. Perubahan yang sederhana dimulai dari konvensional menuju
inovatif. Pembelajaran konvensional dapat berupa metode ceramah, tunggal yang
artinya sumber-sumber terbatas dan biasanya hanya mengandalkan spidol maupun
kapur, kemudian berorientasi pada guru yang artinya siswa lebih banyak pasif
dan inisiatif semua pada guru, kemudian paradigma yang digunakan adalah
transfer of knowledge atau memberi pengetahuan.
Beberapa kendala dalam merubah tradisi menjadi
inovatif adalah:
1. Diri sendiri, karena diri sendiri merupakan
produk dari budaya.
2. Culture budayanya
3. Sistem pendidikan, sistem pendidikan kita
adalah terpusat dikendalikan oleh negara. Pendidikan sebagai ikon kebijakan
pemerintah, sehingga pemerintah selalu ingin menampilkan keberhasilan melalui
pendidikan. Padahal pendidikan mempunyai sifat antara lain adalah jangka
panjang.
Seorang
guru harus mampu menerjemahkan budaya apa saja, dimana saja, kapan saja, oleh
siapa saja yang bisa digunakan untuk pengembangan pembelajaran matematika. Oleh
karena itu, budaya yang digunakan dalam pembelajaran matematika sebaiknya
disesuaikan dengan domisilinya masing-masing, sehingga siswa akan lebih mudah
dalam menerjemahkan pembelajaran yang sedang dilaksanakan. Metode-metode yang
menunjang ethnomathematics antara lain adalah realistic mathematics dan
cooperatif learning. Sedangkan unsur dasar dari ethnomathematics adalah artefak.
Artefak dalam ethnomathematics berupa benda-benda konkret. Selain itu juga ada
yang bersifat gagasan ataupun ide. Artefak juga dapat berupa sastra. Artefak
dapat berbeda-beda, sebagai contoh di Candi Borobudur artefaknya berupa
batu-batu dan berupa sejarah. Di keraton artefaknya berupa sastra,
tembang-tembang jawa, gendhing-gendhing jawa yang dicipta para raja dapat
menjadi nilai sastra yang bisa digali seberapa jauh bermanfaat untuk
pembelajaran matematika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar